Kode Status HTTP — Daftar Lengkap & Artinya

Setiap kode respons HTTP standar dijelaskan dengan bahasa sederhana, lengkap dengan kapan dipakai dan pengaruhnya ke SEO. Cari, filter, atau langsung buka tautan ke kode tertentu.

Diperbarui
70 kode

1xx Informasional

Permintaan sudah diterima dan prosesnya berlanjut. Browser menanganinya secara otomatis.

100

Continue

#

Server sudah menerima header permintaan dan klien boleh melanjutkan dengan mengirim body.

Kapan dipakai: Dikirim sebagai balasan untuk permintaan yang membawa Expect: 100-continue, sehingga klien bisa memastikan unggahan besar akan diterima sebelum mengirimkannya.

101

Switching Protocols

#

Server setuju untuk beralih ke protokol yang disebut di header Upgrade klien.

Kapan dipakai: Dipakai saat koneksi HTTP/1.1 di-upgrade ke WebSocket (Upgrade: websocket).

102

Processing

#

WebDAV: server sudah menerima permintaan tapi belum selesai memprosesnya.

Kapan dipakai: Mencegah klien timeout saat operasi WebDAV yang lama. Jarang dipakai sekarang.

103

Early Hints

#

Memungkinkan server mengirim header Link (preload / preconnect) sebelum respons akhir siap.

Kapan dipakai: Dikirim saat backend masih membuat halaman, supaya browser bisa mulai mengunduh CSS, font, atau script penting lebih awal.

2xx Sukses

Permintaan sudah diterima, dipahami, dan disetujui.

200

OK

#

Permintaan berhasil. Body berisi resource yang diminta atau hasil dari aksi tersebut.

Kapan dipakai: Respons sukses default untuk GET, dan untuk POST/PUT saat kamu mengembalikan body.

Dampak SEO: Satu-satunya status yang membuat halaman bisa diindeks beserta kontennya. Pastikan halaman “tidak ditemukan” tidak mengembalikan 200 (“soft 404”).

201

Created

#

Permintaan berhasil dan resource baru telah dibuat.

Kapan dipakai: Dikembalikan setelah POST (atau PUT) yang membuat sesuatu; sertakan header Location yang mengarah ke resource baru.

202

Accepted

#

Permintaan diterima untuk diproses, tapi prosesnya belum selesai.

Kapan dipakai: Job asinkron: masukkan pekerjaan ke antrean dan kembalikan URL tempat klien bisa mengecek hasilnya.

203

Non-Authoritative Information

#

Respons diubah oleh proxy yang memodifikasi konten dan berbeda dari respons 200 server asal.

Kapan dipakai: Diatur oleh proxy yang mengubah konten; server asal biasanya tidak perlu mengirimnya.

204

No Content

#

Permintaan berhasil dan memang tidak ada body respons.

Kapan dipakai: Permintaan DELETE, endpoint autosave, dan respons preflight CORS yang tidak perlu mengembalikan apa pun.

205

Reset Content

#

Permintaan berhasil dan klien sebaiknya mereset tampilan dokumen (misalnya mengosongkan form).

Kapan dipakai: Jarang; memberi tahu user agent untuk mereset form yang dikirim.

206

Partial Content

#

Server hanya mengirim rentang byte yang diminta lewat header Range.

Kapan dipakai: Streaming video, unduhan yang bisa dilanjutkan, dan download manager.

207

Multi-Status

#

WebDAV: body berupa dokumen XML yang berisi status terpisah untuk beberapa sub-permintaan.

Kapan dipakai: Operasi WebDAV batch yang item-itemnya bisa berhasil atau gagal sendiri-sendiri.

208

Already Reported

#

WebDAV: anggota sebuah binding sudah dicantumkan sebelumnya dalam respons 207 yang sama.

Kapan dipakai: Menghindari daftar resource yang sama berulang kali dalam respons Multi-Status.

226

IM Used

#

Server memenuhi GET dengan manipulasi instance (delta encoding) yang diterapkan.

Kapan dipakai: Delta encoding HTTP (RFC 3229); hampir tidak pernah terlihat dalam praktik.

3xx Pengalihan

Perlu tindakan lanjutan — biasanya mengikuti header Location ke URL lain.

300

Multiple Choices

#

Resource punya beberapa representasi dan klien (atau pengguna) sebaiknya memilih salah satu.

Kapan dipakai: Jarang; negosiasi konten biasanya dilakukan otomatis.

Dampak SEO: Google bisa memilih salah satu opsi; lebih baik gunakan satu 301 ke versi kanonis.

301

Moved Permanently

#

Resource punya URL permanen baru, yang diberikan di header Location.

Kapan dipakai: Pindah domain, HTTP → HTTPS, slug yang diubah, atau menggabungkan halaman duplikat.

Dampak SEO: Cara standar memindahkan halaman: mesin pencari memindahkan sinyal peringkat dan mengindeks URL baru. Browser bisa mengubah POST menjadi GET pada 301 — gunakan 308 jika metodenya harus dipertahankan.

302

Found

#

Resource untuk sementara berada di URL lain.

Kapan dipakai: Redirect jangka pendek seperti halaman maintenance, A/B test, atau alur login.

Dampak SEO: Google menganggapnya sementara dan biasanya tetap menyimpan URL asli di indeks. Jika pindahnya permanen, gunakan 301.

303

See Other

#

Klien sebaiknya mengambil hasilnya dari URL lain menggunakan GET.

Kapan dipakai: Pola “Post/Redirect/Get”: setelah form dikirim lewat POST, redirect ke halaman konfirmasi.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti redirect sementara.

304

Not Modified

#

Salinan di cache masih valid; tidak ada body yang dikirim.

Kapan dipakai: Balasan untuk permintaan bersyarat (If-None-Match / If-Modified-Since) saat resource belum berubah.

Dampak SEO: Bagus untuk efisiensi crawl: Googlebot memakai ulang salinan cache-nya, sehingga menghemat crawl budget.

305

Use Proxy

#

Sudah usang. Awalnya memberi tahu klien untuk mengakses resource lewat proxy.

Kapan dipakai: Jangan dipakai — browser mengabaikannya karena alasan keamanan.

307

Temporary Redirect

#

Mirip 302, tapi klien harus mengulang permintaan dengan metode dan body yang sama.

Kapan dipakai: Redirect sementara untuk permintaan POST/PUT; browser juga menampilkan “307 Internal Redirect” untuk upgrade HSTS.

Dampak SEO: Sementara — URL asli biasanya tetap ada di indeks.

308

Permanent Redirect

#

Mirip 301, tapi klien harus mempertahankan metode dan body yang sama.

Kapan dipakai: Pemindahan permanen endpoint API atau target form yang harus tetap POST.

Dampak SEO: Google memperlakukan 308 sama seperti 301 dan memindahkan sinyal ke URL baru.

4xx Error Klien

Permintaan mengandung error atau tidak bisa dipenuhi: klien sebaiknya mengubah sesuatu sebelum mencoba lagi.

400

Bad Request

#

Server tidak bisa memproses permintaan karena formatnya rusak (sintaks salah, JSON tidak valid, cookie terlalu besar…).

Kapan dipakai: Kegagalan validasi yang tidak bisa dijelaskan lebih spesifik; sertakan pesan error di body.

Dampak SEO: Halaman yang mengembalikan 4xx dikeluarkan dari indeks.

401

Unauthorized

#

Autentikasi diperlukan tapi tidak ada atau tidak valid. Meski namanya “Unauthorized”, artinya “belum terautentikasi”.

Kapan dipakai: Token atau kredensial hilang atau kedaluwarsa. Wajib menyertakan header WWW-Authenticate.

Dampak SEO: Crawler tidak bisa login, jadi halaman di balik 401 tidak diindeks — ini yang kamu mau untuk area privat.

402

Payment Required

#

Dicadangkan untuk penggunaan di masa depan; sebagian API memakainya saat pembayaran atau upgrade kuota diperlukan.

Kapan dipakai: Error tagihan non-standar (misalnya langganan sudah habis).

403

Forbidden

#

Server memahami permintaan tapi menolak memberi otorisasi. Login ulang tidak akan membantu.

Kapan dipakai: Pengguna sudah login tapi tidak punya izin, atau akses diblokir oleh IP, WAF, atau izin file.

Dampak SEO: Tidak diindeks. Pastikan firewall atau proteksi bot kamu tidak mengembalikan 403 ke Googlebot secara keliru.

404

Not Found

#

Server tidak bisa menemukan resource yang diminta.

Kapan dipakai: URL tidak pernah ada atau dihapus tanpa pengganti. Sediakan halaman 404 kustom yang membantu.

Dampak SEO: Wajar dan tidak berbahaya untuk halaman yang memang tidak ada; Google akan mengeluarkannya seiring waktu. Redirect (301) URL yang punya backlink atau punya pengganti yang jelas.

405

Method Not Allowed

#

Metode HTTP tidak didukung untuk URL ini (misalnya POST ke halaman yang hanya bisa dibaca).

Kapan dipakai: Kembalikan dengan header Allow yang berisi daftar metode yang didukung.

406

Not Acceptable

#

Server tidak bisa membuat respons yang sesuai dengan header Accept pada permintaan.

Kapan dipakai: Negosiasi konten yang ketat; banyak API justru mengembalikan format default-nya.

407

Proxy Authentication Required

#

Mirip 401, tapi klien harus terautentikasi ke proxy.

Kapan dipakai: Dikirim oleh proxy perusahaan atau forward proxy dengan header Proxy-Authenticate.

408

Request Timeout

#

Server kehabisan waktu menunggu klien menyelesaikan pengiriman permintaan.

Kapan dipakai: Koneksi yang diam lama atau sangat lambat; klien bisa mencoba lagi.

409

Conflict

#

Permintaan bertentangan dengan kondisi resource saat ini.

Kapan dipakai: Konflik saat edit, kunci unik yang duplikat, atau ketidakcocokan versi pada optimistic locking.

410

Gone

#

Resource sudah dihapus secara permanen dan tidak akan kembali.

Kapan dipakai: Konten yang sengaja dihapus, iklan atau kampanye yang sudah berakhir.

Dampak SEO: Google memperlakukan 410 seperti 404 tapi bisa mengeluarkan URL sedikit lebih cepat.

411

Length Required

#

Server membutuhkan header Content-Length.

Kapan dipakai: Unggahan tanpa panjang saat chunked encoding tidak diterima.

412

Precondition Failed

#

Kondisi di header permintaan (If-Match, If-Unmodified-Since) bernilai salah.

Kapan dipakai: Concurrency optimistik: tolak update karena resource sudah berubah sejak klien membacanya.

413

Content Too Large

#

Body permintaan lebih besar dari yang diizinkan server (dulu disebut “Payload Too Large”).

Kapan dipakai: Unggahan file di atas batas — misalnya client_max_body_size di nginx.

414

URI Too Long

#

URL lebih panjang dari yang bisa diproses server.

Kapan dipakai: Biasanya bug: query string yang sangat panjang atau redirect loop yang terus menambah parameter.

415

Unsupported Media Type

#

Format body (Content-Type) tidak didukung.

Kapan dipakai: API yang mengharapkan application/json justru menerima data form atau XML.

416

Range Not Satisfiable

#

Header Range meminta byte di luar ukuran file.

Kapan dipakai: Melanjutkan unduhan dari posisi di luar akhir file yang sudah mengecil.

417

Expectation Failed

#

Server tidak bisa memenuhi syarat di header Expect.

Kapan dipakai: Menolak unggahan Expect: 100-continue.

418

I’m a teapot

#

Lelucon April Mop dari RFC 2324 (Hyper Text Coffee Pot Control Protocol): server menolak menyeduh kopi karena dirinya adalah teko teh.

Kapan dipakai: Hanya untuk easter egg. Beberapa layanan memakainya untuk menolak permintaan otomatis atau tidak diinginkan, tapi kode ini tidak punya arti standar.

421

Misdirected Request

#

Permintaan sampai ke server yang tidak bisa memberikan respons untuk host ini.

Kapan dipakai: Penggunaan ulang koneksi HTTP/2 lintas hostname yang sertifikat atau konfigurasinya tidak cocok.

422

Unprocessable Content

#

Sintaksnya valid, tapi isinya gagal validasi semantik.

Kapan dipakai: Error validasi form atau API (field wajib kosong, email tidak valid). Populer di API Rails dan Laravel.

423

Locked

#

WebDAV: resource sedang dikunci.

Kapan dipakai: File sedang di-checkout atau dikunci oleh pengguna lain.

424

Failed Dependency

#

WebDAV: permintaan gagal karena permintaan sebelumnya yang menjadi dependensinya juga gagal.

Kapan dipakai: Operasi batch di mana satu kegagalan membatalkan sisanya.

425

Too Early

#

Server tidak akan memproses permintaan yang mungkin diputar ulang (data awal TLS 1.3 / 0-RTT).

Kapan dipakai: Melindungi permintaan non-idempoten yang dikirim di data awal TLS dari serangan replay.

426

Upgrade Required

#

Klien harus beralih ke protokol lain yang disebut di header Upgrade.

Kapan dipakai: Memaksa klien pindah ke versi protokol yang lebih baru.

428

Precondition Required

#

Server mewajibkan permintaan bersyarat (misalnya menyertakan If-Match).

Kapan dipakai: Mencegah “lost update” dengan menolak permintaan PUT/PATCH tanpa syarat.

429

Too Many Requests

#

Klien mengirim terlalu banyak permintaan dalam waktu tertentu (rate limiting).

Kapan dipakai: Batas rate limit API dan proteksi brute-force. Sertakan header Retry-After.

Dampak SEO: Googlebot memperlambat crawl saat melihat 429 (dan 503). 429 yang terus-menerus bisa membuat URL dikeluarkan.

431

Request Header Fields Too Large

#

Sebuah header (sering Cookie) atau semua header digabung terlalu besar.

Kapan dipakai: Biasanya disebabkan oleh cookie yang menumpuk; menghapus cookie untuk situs tersebut akan memperbaikinya bagi pengguna.

451

Unavailable For Legal Reasons

#

Resource diblokir karena alasan hukum — sensor, perintah pengadilan, atau regulasi regional. Angkanya merujuk pada novel Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury.

Kapan dipakai: Konten yang dihapus karena permintaan takedown atau dibatasi secara geografis oleh hukum.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti kode 4xx lainnya: tidak diindeks.

5xx Error Server

Server gagal memenuhi permintaan yang tampaknya valid.

500

Internal Server Error

#

Error umum: server mengalami kondisi yang tidak terduga.

Kapan dipakai: Exception yang tidak tertangani, script yang crash, aturan .htaccess yang rusak. Cek log server kamu.

Dampak SEO: Gangguan singkat masih bisa ditoleransi; jika error 5xx bertahan berhari-hari, Google memperlambat crawl dan akhirnya mengeluarkan URL.

501

Not Implemented

#

Server tidak mendukung fungsi yang dibutuhkan (sering kali metode yang tidak dikenal).

Kapan dipakai: Metode yang sama sekali tidak dikenali server, berbeda dengan 405 untuk metode yang dikenal tapi tidak diizinkan.

502

Bad Gateway

#

Gateway atau proxy menerima respons yang tidak valid dari server upstream.

Kapan dipakai: App server kamu (PHP-FPM, Node, Gunicorn) crash atau mengembalikan data rusak di balik nginx, load balancer, atau CDN.

Dampak SEO: Sama seperti 5xx lainnya: sementara masih wajar, error yang terus-menerus merugikan crawling dan indeks.

503

Service Unavailable

#

Server untuk sementara tidak bisa menangani permintaan — kelebihan beban atau sedang maintenance.

Kapan dipakai: Maintenance terjadwal atau kelebihan beban. Tambahkan Retry-After untuk memberi tahu kapan harus kembali.

Dampak SEO: Kode yang tepat untuk downtime terjadwal: Google tetap menyimpan halaman di indeks dan mencoba lagi nanti. Jangan dipakai lebih dari sehari atau dua hari.

504

Gateway Timeout

#

Gateway atau proxy tidak menerima respons dari server upstream tepat waktu.

Kapan dipakai: Query database yang lambat atau API upstream yang melebihi timeout proxy.

Dampak SEO: Timeout yang terus-menerus menurunkan crawl rate dan bisa menyebabkan deindex.

505

HTTP Version Not Supported

#

Server tidak mendukung versi HTTP yang dipakai dalam permintaan.

Kapan dipakai: Versi protokol yang sangat lama atau sangat baru yang tidak bisa ditangani server.

506

Variant Also Negotiates

#

Salah konfigurasi server: varian yang dipilih juga dikonfigurasi untuk negosiasi, sehingga terjadi loop.

Kapan dipakai: Error konfigurasi negosiasi konten.

507

Insufficient Storage

#

WebDAV: server tidak bisa menyimpan representasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan permintaan.

Kapan dipakai: Disk atau kuota pengguna sudah penuh.

508

Loop Detected

#

WebDAV: server mendeteksi loop tak terbatas saat memproses permintaan.

Kapan dipakai: Beberapa hosting (misalnya cPanel/CloudLinux) juga mengembalikannya saat akun mencapai batas resource.

510

Not Extended

#

Permintaan membutuhkan ekstensi tambahan (RFC 2774, kini sudah historis).

Kapan dipakai: Hampir tidak pernah dipakai.

511

Network Authentication Required

#

Klien harus terautentikasi untuk mendapatkan akses jaringan.

Kapan dipakai: Captive portal di Wi-Fi hotel, bandara, atau kafe.

Kode non-standar (nginx, Cloudflare)

Bukan bagian dari spesifikasi HTTP, tapi sering muncul di log server dan halaman error.

444

No Response (nginx)

#

nginx menutup koneksi tanpa mengirim respons apa pun.

Kapan dipakai: Dikonfigurasi di nginx untuk diam-diam membuang permintaan berbahaya atau tidak diinginkan.

499

Client Closed Request (nginx)

#

Dicatat oleh nginx saat klien menutup koneksi sebelum server merespons.

Kapan dipakai: Kamu akan melihatnya di log saat pengguna meninggalkan halaman atau timeout klien lebih pendek dari waktu respons server.

520

Web Server Returned an Unknown Error (Cloudflare)

#

Cloudflare menerima respons kosong, tidak dikenal, atau tidak terduga dari origin server.

Kapan dipakai: Origin crash, header terlalu besar, atau koneksi di-reset. Cek log error origin.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti error 5xx.

521

Web Server Is Down (Cloudflare)

#

Origin server menolak koneksi dari Cloudflare.

Kapan dipakai: Web server sedang berhenti atau firewall memblokir rentang IP Cloudflare.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti error 5xx.

522

Connection Timed Out (Cloudflare)

#

Cloudflare tidak bisa menyelesaikan koneksi TCP ke origin.

Kapan dipakai: Origin kelebihan beban, record DNS salah, atau firewall membuang paket.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti error 5xx.

524

A Timeout Occurred (Cloudflare)

#

Cloudflare sudah terhubung ke origin, tapi origin tidak merespons dalam 100 detik.

Kapan dipakai: Permintaan yang berjalan lama; pindahkan ke background job.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti error 5xx.

525

SSL Handshake Failed (Cloudflare)

#

Handshake TLS antara Cloudflare dan origin gagal.

Kapan dipakai: Origin tidak punya sertifikat yang valid atau tidak mendukung SNI/versi TLS yang dipakai Cloudflare.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti error 5xx.

526

Invalid SSL Certificate (Cloudflare)

#

Cloudflare (dalam mode Full Strict) tidak bisa memvalidasi sertifikat origin.

Kapan dipakai: Sertifikat origin kedaluwarsa atau self-signed — pasang sertifikat yang valid atau sertifikat Cloudflare Origin CA.

Dampak SEO: Diperlakukan seperti error 5xx.

Data kamu tidak pernah meninggalkan komputer kamu. Semua proses berjalan 100% secara lokal di browser kamu.

Apakah alat ini membantu?0.0 0 penilaian
Cek header respons HTTP URL apa pun gratisStatus code, redirect, caching, content type, X-Robots-Tag dan security header, dijelaskan dengan bahasa mudah.Cek HTTP Header →

Cara menggunakan Kode Status HTTP

  1. Ketik kode (404) atau kata (redirect, timeout, rate limit) di kotak pencarian.
  2. Filter berdasarkan kelas — 1xx informasional, 2xx sukses, 3xx redirect, 4xx error klien, 5xx error server — atau tampilkan hanya kode yang paling umum.
  3. Baca arti kode, kapan dipakai, dan untuk redirect serta error, bagaimana pengaruhnya ke mesin pencari.
  4. Klik # di samping kode untuk menyalin tautan langsung (misal /http-status-codes#429) untuk dokumentasi atau code review.

Apa itu kode status HTTP?

Kode status HTTP adalah angka tiga digit yang dikirim server di awal setiap respons untuk memberi tahu hasil dari sebuah permintaan. Browser, klien API, dan crawler mesin pencari semuanya membacanya lebih dulu. Digit pertama menentukan kelasnya: 1xx informasional, 2xx sukses, 3xx pengalihan, 4xx error klien, dan 5xx error server. Definisi terkini ada di RFC 9110 (HTTP Semantics, 2022), dengan beberapa ekstensi seperti 429 (RFC 6585) dan 451 (RFC 7725).

Kode status yang paling sering kamu temui

KodeArtiPenyebab umum
200OKSemua berjalan lancar
301 / 308Redirect permanenHalaman atau domain sudah pindah
302 / 307Redirect sementaraAlur login, maintenance, A/B test
304Not ModifiedCache browser masih valid
401 / 403Belum terautentikasi / dilarangToken hilang, hak akses kurang, diblokir WAF
404Not FoundURL salah atau halaman sudah dihapus
429Too Many RequestsBatas rate limit terlampaui
500Internal Server ErrorBug atau crash di aplikasi
502 / 504Bad gateway / timeoutBackend di balik proxy atau CDN gagal atau terlalu lambat
503Service UnavailableMaintenance atau kelebihan beban

Bagaimana kode status memengaruhi SEO

Mesin pencari hanya mengindeks halaman yang mengembalikan 200. Redirect permanen (301, 308) meneruskan sinyal peringkat ke URL baru, sedangkan redirect sementara (302, 307) membuat URL lama tetap ada di indeks. 404 dan 410 menghapus halaman seiring waktu. Ini wajar untuk konten yang memang sudah tidak ada, tapi URL yang punya backlink sebaiknya di-redirect. Soft 404 — halaman error yang mengembalikan 200 — membuang crawl budget dan akan ditandai di Google Search Console. Untuk downtime, kembalikan 503 dengan header Retry-After: Google tetap menyimpan halamanmu di indeks dan kembali lagi nanti, sedangkan error 5xx yang berlangsung lama atau respons 429 membuat Googlebot merayap lebih jarang dan akhirnya menghapus URL.

Memilih kode yang tepat untuk API kamu

  • Gunakan 201 Created dengan header Location setelah membuat resource, dan 204 jika tidak ada yang perlu dikembalikan.
  • Bedakan 400 (permintaan rusak), 422 (JSON valid tapi gagal validasi), 401 (siapa kamu?), dan 403 (aku tahu siapa kamu, tapi tidak boleh).
  • Gunakan 409 untuk konflik seperti email duplikat, dan 429 dengan Retry-After untuk rate limit.
  • Jangan pernah mengembalikan 200 dengan pesan error di body — klien, sistem monitoring, dan cache semuanya bergantung pada kode status.

Cek status yang dikembalikan sebuah URL dengan HTTP Header Checker, telusuri rantai redirect dengan Redirect Checker, atau kirim permintaanmu sendiri dengan API Tester.

Juga dicari sebagai: daftar kode status http, arti kode status http, kode respons http, error 404, redirect 301, error 500, 503 service unavailable, 429 too many requests.

Tool yang cocok dipakai bersama Kode Status HTTP

  • Cek Broken Link — Masukkan URL halaman, lalu setiap tautan di dalamnya, ditambah gambar, script, dan stylesheet jika kamu mau, akan diuji secara langsung.
  • Cek Situs Down — Cari tahu dalam hitungan detik apakah sebuah website down untuk semua orang atau hanya untuk kamu — lengkap dengan kode status, waktu respons, dan tips memperbaikinya.
  • Analisis Header Email — Tempel header mentah dari email untuk melihat seluruh perjalanannya: setiap lompatan server beserta waktu tempuhnya, hasil SPF, DKIM dan DMARC, IP asal, serta tanda bahaya seperti Reply-To atau Return-Path yang tidak cocok.
  • Cek MIME Type — Cari 200+ ekstensi file dan MIME type — .webp, .woff2, .webmanifest, application/wasm … — atau seret file ke sini untuk mendeteksi tipe aslinya dari beberapa byte pertamanya.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa perbedaan redirect 301 dan 302?
301 berarti pindahnya permanen: browser menyimpannya di cache dan mesin pencari memindahkan peringkat ke URL baru. 302 bersifat sementara: URL asli tetap ada di indeks. Gunakan 308/307 jika metode permintaan (misal POST) harus dipertahankan.
Apa perbedaan 401 dan 403?
401 Unauthorized berarti kamu belum terautentikasi — login atau kirim token yang valid. 403 Forbidden berarti server sudah tahu siapa kamu (atau tidak peduli) tapi tetap menolak akses; login ulang tidak akan membantu.
Sebaiknya pakai 404 atau 410 untuk halaman yang dihapus?
Keduanya membuat halaman hilang dari hasil pencarian. 410 Gone menyatakan penghapusan itu disengaja dan permanen, dan mungkin diproses sedikit lebih cepat; 404 juga aman jika kamu tidak yakin.
Apa arti 418 I’m a teapot?
Kode ini berasal dari RFC April Mop (2324) tentang pengendalian mesin kopi lewat HTTP. Tidak punya arti nyata, tapi tetap dicadangkan karena banyak library mengimplementasikannya sebagai easter egg.
Apa itu soft 404?
Halaman yang menampilkan pesan “tidak ditemukan” tapi mengembalikan status 200. Mesin pencari bisa mengindeksnya sebagai halaman tipis. Pastikan halaman error kamu mengirim status 404 atau 410 yang sebenarnya.
Kode status apa yang sebaiknya dipakai saat maintenance?
503 Service Unavailable, sebaiknya dengan header Retry-After. Ini memberi tahu crawler bahwa gangguannya sementara, jadi peringkatmu tidak terpengaruh oleh jendela maintenance yang singkat.
Bisakah saya memasang Kode Status HTTP sebagai aplikasi web dan memakainya offline?
Bisa. Kode Status HTTP adalah aplikasi web (PWA) yang bisa dipasang. Pemasangannya lewat browser kamu, bukan diunduh dari toko aplikasi. Klik Pasang aplikasi di bagian atas halaman ini di Chrome atau Edge (Windows, macOS, Linux, ChromeOS) atau di Android. Di iPhone dan iPad, gunakan Bagikan → Tambahkan ke Layar Utama, dan di Safari 17+ pada Mac, gunakan File → Tambahkan ke Dock. Setelah itu, aplikasi akan terbuka di jendelanya sendiri dengan ikonnya sendiri. Karena berjalan sepenuhnya di browser kamu, aplikasi ini tetap bisa dipakai offline. Firefox di desktop tidak bisa memasang aplikasi web. Cara memasang aplikasi.

Tool terkait